- Diposting oleh : Tim Biro Medig GKII Wilayah 2 KalBar
- pada tanggal : Desember 16, 2024
Ada sesuatu yang luar biasa tentang momen ketika kita benar-benar merasa bahwa kita “melihat” sesuatu—bukan hanya dengan mata fisik, tetapi dengan hati yang terbuka. Pernahkah kamu merasakan itu? Semacam kedamaian mendalam yang tiba-tiba muncul, seperti ketika semua kekacauan di sekelilingmu mendadak menjadi tenang? Aku pernah. Dan aku akan jujur, itu adalah momen yang membuatku tidak bisa berkata-kata.
Aku ingat, ada satu masa dalam hidupku ketika segala hal terasa serba salah. Pekerjaan terasa seperti beban, hubungan dengan orang-orang terdekat tidak harmonis, dan aku mulai mempertanyakan apakah aku berada di jalur yang benar dalam hidup ini. Rasanya seperti berjalan dalam kabut tebal—kamu terus bergerak, tapi tak tahu apa yang ada di depan.
Kemudian, suatu sore, aku duduk sendiri di sebuah taman kecil di dekat rumah. Aku suka tempat itu karena ada sesuatu yang menenangkan dari suara daun yang bergesekan ditiup angin. Sore itu, aku membawa buku kecil—sebuah Alkitab pemberian nenekku. Aku ingat dia selalu berkata, “Buka saja. Tidak harus kamu mengerti semuanya sekarang. Tapi ada saatnya sesuatu akan berbicara ke hatimu.”
Aku membuka Lukas 2:30, dan di sanalah ayat itu muncul: “Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.” Ayat itu keluar dari halaman seolah-olah berbicara langsung kepadaku. Itu adalah bagian dari nyanyian Simeon, seorang lelaki tua yang menanti seumur hidup untuk melihat Mesias. Aku membayangkan Simeon berdiri di Bait Allah, dengan tangan yang mungkin gemetar karena usia, memegang bayi Yesus. Di momen itu, dia tahu dia sedang melihat jawaban dari semua doanya.
Aku tertegun. Aku mulai berpikir, bagaimana mungkin seseorang seperti Simeon bisa begitu yakin? Tapi saat aku merenungkan, aku menyadari bahwa keselamatan bukan hanya tentang apa yang kita lihat secara fisik. Itu adalah momen ketika hati kita merasa dipenuhi oleh keyakinan, bahwa kita tidak berjalan sendirian, bahwa ada rencana yang lebih besar, bahkan di tengah kekacauan.
Sore itu, aku duduk lebih lama di taman. Tidak ada jawaban instan untuk semua masalahku. Tetapi ada perasaan yang berbeda—semacam kepastian bahwa, seperti Simeon, aku pun suatu hari akan benar-benar melihat “keselamatan” itu dalam hidupku.
Mungkin kamu juga sedang berada di tengah “kabut” dalam hidupmu sekarang. Aku tidak akan berpura-pura tahu semua jawaban, tapi aku akan mengatakan ini: kadang-kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak, melihat dengan hati, dan membiarkan janji Tuhan berbicara. Keselamatan itu bukan selalu berupa solusi langsung; seringkali, itu adalah kedamaian untuk terus berjalan dengan percaya.
Dan kalau kamu mau tahu? Sejak hari itu, meskipun hidup tidak selalu jadi sempurna, aku merasa punya pegangan yang nyata. Sebab, seperti yang Simeon katakan, mata kita tidak hanya diciptakan untuk melihat dunia di luar, tetapi juga melihat kebenaran yang telah Tuhan sediakan di dalam.
Bagaimana denganmu? Apa momen “melihat” keselamatan itu pernah hadir dalam hidupmu? Mungkin hari ini adalah waktunya. 🌿
